Monday, July 30, 2007

Halte dan senja yang gagal membuat takjub


Halte dan senja yang gagal membuat takjub




Halte dan selempeng senja,

perempuan rebonding tumpah dari billboard di ujung sana

bibirnya basah, celananya basah

menebar aroma pada imaji orgasme sempurna

mengantar pengantri roller coaster menuju akhir sejarahnya

sebuah roller coaster terlambat dan terpanjang yang pernah ada


inilah amuk hiperskeptisisme pembunuh berantai atas nama cinta

sahutnya


‘This is my final fit, my final bellyache with
No alarms and no surprises, no alarms and no surprises
No alarms and no surprises, please..’*


gedung phallus perancap langit

imaji jackpot para petarung struk belanja,

penghisap keringat

asap, serapah dan senyum karbon dioksida

selesai sudah serangkaian peluh dan derita

dari mata-mata yang tak lagi mengharapkan keajaiban

dan narasi pada senja didepan sana


waktu mekanis hari ini dan selanjutnya

adalah ini dan kemudian itu, ini lagi kemudian itu

…..

dan mati


tubuh-tubuh mati kompos peradaban,

pelumas sejarah berangkal urugan

dikeruk oleh permainan kuasa

TV zapping dan panopticon raksasa

disudut sana, gitar bolong serak masih terus mengigaukan Tuhan,


Tuhan..Tuhan, Hei..Tuhan

suaranya tersedak kata yang mirip nasi atau nasib


‘No alarms and no surprises, no alarms and no surprises
No alarms and no surprises
Silent, silent..’*





*No Surprises - Radiohead

Saya Ingin Dieksploitasi


Saya Ingin Dieksploitasi

Saya ingin dieksploitasi.Pasti menyenangkan.Layaknya selebritis,politisi,pengkhotbah atau mereka yang menjadi bintang reality show. Karena hidup mereka itu penting dan bisa menjadi contoh.Bisa ngomong sedikit bahasa Inggris, sudah dianggap keren kok.Jaman sekarang, privasi sudah tak penting lagi.Ruang privasi menjadi ruang publik itu yang tengah trend dan menjadi santapan sehari-hari.Buat apa punya prinsip hidup,moralitas atau menjadi orang berbudi pekerti.Toh keyakinan hanya sebatas obyek media, apalagi yang berbau mistis.Permintaan pasar itu yang terpenting. Kesedihan,penderitaan apalagi kemisikinan itu tidak ada,hanya omong kosong.Hidup ini kan seperti opera sabun atau sinetron. Air mata orang lain pasti laku dijual. Kita akan tersenyum dan merasa lebih baik. Tak perlulah bersyukur. Tak perlu bersedih melihat banyak gembel dan pengemis di jalan. Tak perlu pusing melihat orang lain kekurangan makan. Tak perlu heran melihat mereka yang tergusur rumahnya. Yang jelas, tak perlu memikirkan hidup orang lain.Yang harus dipikirkan adalah bagaimanan hidup kita ini dieksploitasi dan bisa dinikmati seperti opera sabun atau sinetron.

kata-kata meloncat

tentang pemikiran: ada seorang teman datang dengan retorika tentang budaya. tentang merdeka=mardi ika. tentang rakusnya pikir dan weningnya rasa. tentang gamelan. tentang kecapi dan suling. tentang lahar yang dingin oleh bunyi. tentang mengaji pada diri. tentang sajatining nu dumadi. tentang jamparing asih.-- ah: beberapa saat lagi hari bumi-kaa dan beberapa aksi. ah: betapa rindu pada sunyi.

ah: dua kali sehari wajah itu datang.

"i would LOVE to be there at your side, crossing every forest and river in the world, listening to all your geological stories, and all the myths and legends of your wonderful land" she said. "somehow i will feel that you always be with me, your eyes watching me with the forest, your breath blows me with the wind, and your whispers is a river" he said.

ah: seharusnya cinta tidaklah sentimentil, dan melemahkan.

ada seorang kawan yang meninggalkan bawaan. dan pertemuan terakhir dengan sedikit kekecewaan. ketulusan yang dipaksakan. untuk sebuah keinginan yang tak pernah diberikan. keterbukaan yang tidak harus dipaksakan. kau begitu sendirian.
ada seorang lagi kawan dan persimpangan diantara dua tujuan. seorang pahlawan kesiangan. dan sebuah dinding budi yang menghalangi hubungan. sudah terdapat ketimpangan. hilang sebuah keseimbangan. antara aksi dan reaksi. antara tubuh dan jiwa. aku hanya mampu memberinya jiwa. dan dia selalu ada untuk tubuh yang renta.

tahukah kawan? yang aku butuhkan hanyalah kematian yang padan.

MARI BELAJAR BAGAIMANA CARANYA MENJUAL AGAMA SEPERTI MENJUAL HAMBURGER


Bagi umat Muslim, akhir bulan lalu adalah awal bagi bulan suci mereka, bulan yang dianggap penuh berkah, bulan penuh pahala menyambut datangnya hari suci, Idul Fitri. Berhubung Idul Fitri jatuh pada bulan November, sementara Natal pada bulan Desember, berarti dua bulan terakhir tahun 2003 ini akan penuh dengan perayaan. Ada dua tempat yang paling sering dikunjungi dalam dua bulan ini: mesjid dan mall. Desain ketupat lebaran akan menjadi desain favorit menjelang Idul Fitri, sementara menjelang Natal, desain favorit adalah pohon pinus dan Sinterklas. Hampir semua tempat -tak usah disebut tempat-tempat ibadah karena hal itu sudah jelasmemiliki dekorasi ruang dengan dua item tersebut, apalagi mall, tempat yang paling selalu berada di garda depan dalam hal menyesuaikan diri dengan momen-momen yang menjadi tradisi setempat. Lagu-lagu pujian dari kedua agama tersebut akan mengambil alih seluruh waktu dalam jam buka mall, menemani para konsumer berbelanja sepatu, baju, parsel, dan hidangan-hidangan istimewa.

Ini mengingatkanku pada suatu momen yang selalu kualami setiap tahunnya setiap aku menginjakkan kakiku ke mallmall di sekitar hari-hari suci tersebut. Saat kulangkahkan kaki memasuki mall, di McDonald's yang terletak di barisan depan BIP, selalu saja grup musik Bimbo sedang diputar beberapa nomornya. Lagu-lagunya yang diputar selalu yang bernafaskan Islam, tetapi tidak nomor-nomor lama mereka sebelum grup tersebut menjadi religius. Lagu-lagu tersebut dilantunkan menemani mereka yang sedang duduk menikmati makanan, menembus sekat-sekat pemisah hingga sayup-sayup dapat terdengar juga oleh telinga mereka yang sedang bertahan seharian menahan lapar dan haus menunggu datangnya Maghrib. Sebagai yang bukan bagian dari umat Muslim, aku merasa sedikit aneh, saat irama Islami justru dikumandangkan bagi mereka yang justru tidak menjalankan ibadah umat Muslim. Tak ada lagi sesuatu yang sakral di tempat tersebut walaupun saat isu anti Amerika sedang hangat-hangatnya beberapa saat lalu, mendadak tempat tersebut seakan sebuah tempat yang paling Islami -seluruh pekerjanya berpakaian ala Muslim dan tepat di atas atap dipasang sebuah spanduk bertuliskan huruf-huruf kapital menyatakan bahwa restoran tersebut dimiliki oleh seorang haji. Tentu, selama bulan Ramadhan, seluruh pekerjanya juga wajib mengenakan pakaian Muslim. Lihat, betapa religiusnya restoran tersebut!

Indonesia memang aneh, dunia memang aneh, orang-orang dapat bertakwa kepada Tuhan dan pada saat yang sama juga mengabdi kepada pasar. Di mall, keduanya dapat dipertemukan dalam cara-cara yang menakjubkan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak perlu merasa aneh dengan kehidupan di mall yang seperti demikian. Sepertinya dimana-mana di dunia ini, terjadi hal yang serupa. Seperti yang pernah juga masuk dalam memoriku, di departmen store Takashimaya yang terkenal di Tokyo, atau juga di Seibu, saat mendekati Natal terjadi juga hal yang serupa. Ada dekorasi Natal standar: pohon pinus dan berbagai kado di bawahnya, Rudolf si rusa berhidung merah dan tentu saja, Sinterklas. Tapi di Jepang justru ada sedikit perbedaan soal mendekati Natal. Saat tersebut adalah saat dimana para gadis membelikan hadiah bagi para lelaki pujaannya. Tak ada peringatan-peringatan sehubungan dengan hari suci kelahiran Yesus Kristus. Tak ada silaturahmi Natalan. Natal eksis sebagai sebuah musim untuk berbelanja (cokelat bagi sang lelaki terkasih). Dua bulan kemudian, akan hadir juga musim dimana para lelaki berbelanja hadiah bagi para gadis pujaannya: hari Valentine. Tapi pada intinya, dimana-mana Idul Fitri, Natal dan hari Valentine semuanya sama, sebuah musim belanja.

Di Indonesia, aku yakin, berbelanja saat mendekati hari raya justru jauh lebih serius daripada yang terjadi di Jepang. Aku juga yakin, kalau seandainya para Nabi dan Rasul dapat hadir kembali di dunia ini, mereka akan segera meninggal untuk kedua kalinya. Lagu-lagu Bimbo mentransformasikan nyanyian religius menjadi sebuah entertainment yang disuguhkan kepada mereka yang tidak berpuasa. Stand-stand yang menjual perangkat keagamaan berdiri berderet di samping stand-stand yang menjual makanan, peralatan rumah tangga, perangkat audio dan game. Manequin-manequin yang di hari-hari biasa digunakan untuk memampangkan bikini model tanga yang super seksi, ditutupi dengan pakaian yang menutup aurat, menutup bagian yang bagi umat Muslim dilarang untuk diekspos di hadapan publik.

Di luar mall, seluruh bintang-bintang televisi dan para selebriti seperti Krisdayanti akan tampil dengan sangat religius, juga tentu akan diperdengarkan di media opini-opini penuh takwa bintang-bintang seperti Dian Sastro. Inul Daratista tampil mengenakan pakaian yang biasa digunakan oleh kaum Muslimah. Tunggu saja, siapa bintang berikutnya yang akan tampil religius, setelah pada hari-hari sebelumnya tampil dengan sangat berseberangan dari akidah-akidah agama. Bahkan aktris seseksi Sophia Latjuba -pun tentu akan dapat tampil dengan kekhidmatannya di hadapan patung Bunda Maria.

Dalam pasar, iklan menegaskan hubungan antara produk dan keyakinan serta membuat koneksi tersebut terlihat alami: mie instant dengan saat berbuka puasa, rokok dengan suasana Natal di pegunungan, mobil produksi terbaru dengan silaturahmi saling memaafkan di Idul Fitri. Dalam pasar, tubuh dan pengumbaran nafsu dirayakan pada saat yang sama dengan keheningan jiwa dan kesucian.

Apa yang menghubungkan semua hal tersebut hingga keduanya dapat tampil secara bersamaan? Jawabannya adalah bahwa segala sesuatu tersedia untuk dikonsumsi. Konsumsi adalah penemuan modern, dan menjadi sebuah konsep yang mengerikan. Mungkin tak ada terjemahan yang tepat bagi kata tersebut untuk bahasa Indonesia. Pada faktanya, banyak orang di negeri miskin seperti Indonesia ini yang masih harus berjuang untuk mendapatkan kebutuhan hidup dasar sehari-hari, melihat kata ini sebagai sesuatu yang terlalu mewah. Mereka menterjemahkan 'consumption' atau 'konsumsi' sesederhana 'makan'. Kata 'seksi konsumsi' yang sering ditemukan dalam struktur pengorganisasian sebuah event atau sejenisnya, selalu berarti seksi tersebut mengorganisir kebutuhan perut orang alias penyedia makanan dan minuman.

Aku mencari melalui search engine di internet untuk referensi mengenai konsumsi. Setelah mengetik 'consumption', 'to consume', tampil sebuah abstrak atas pemikiran seorang filsuf, Jean Baudrillard. Opini Baudrillard memang tampak kompleks dan berpengalaman, tetapi versi sederhananya dari argumennya adalah bahwa apa yang dibeli oleh orang-orang saat ini adalah simbol. Dimana Karl Marx percaya bahwa setiap produk memuat sebuah nilai yang aslinya adalah nilai dari keringat kelas pekerja, Baudrillard berkata bahwa produk dinilai bukan karena nilai tersebut atau karena nilai gunanya. Saat ini, produk dihargai pada makna nilai simboliknya. Dan karenanya, produk yang dibeli tak lain hanya sekedar sebuah simbol.

Kedengarannya memang sinis. Tapi memang demikian adanya, sebagaimana bahwa di dunia di bawah sistem kapitalisme ini sulit ditemukan kebahagiaan yang nyata, maka orang-orang hanya dapat membeli simbol dari kebahagiaan tersebut. Dan begitulah yang terjadi pada hal-hal yang berbau religius, dimana nilai-nilai religiusnya telah terhapuskan, tak meninggalkan sesuatupun selain hanya satu hal: simbol. Mungkin kita tak perlu sesinis ini ya. Benar kalau dibilang bahwa kebahagiaan masih eksis. Tepat sekali. Tetapi kebahagiaan hanya eksis di luar sistem pasar dan jaringan jual belinya. Jelas hal ini benar bahwa sebuah benda atau sebuah citra yang ditempatkan di etalase untuk dikonsumsi, maka benda tersebut telah tertransformasikan tak lebih sebagai sebuah simbol, dan substansinya dapat diabaikan begitu saja.

Opini dari Baudrillard memang terdengar ekstrim, tetapi saat aku memasuki mall-mall dan mendapati bagaimana toko-toko menghadirkan nuansa Idul Fitri dan Natal sebagai bagian dari promosinya untuk berhasil meraup profit lebih banyak, maka aku seketika akan dapat menyetujui opini dari Baudrillard tersebut.

Aku mendadak teringat pada sebuah artikel tulisan seorang sosiolog bernama Chua Beng Huat. Ia menulis berdasarkan sebuah riset yang dilakukan di mall-mall di Singapura. Chua berargumen bahwa mall-mall tersebut kini bukanlah sekedar sebuah tempat untuk berbelanja. Fungsi utama dari mall adalah sebuah tempat untuk nongkrong, untuk menemukan pelepasan yang mengasyikan dari sengatan panas matahari tropik yang semakin panas akibat penggundulan pepohonan di pinggir jalan serta maraknya mode arsitektur rumah ala mediteranian yang meratakan seluruh lahan dari pepohonan rindang. Kini, apa sebenarnya yang dikonsumsi oleh orang-orang yang datang untuk melihat atau untuk dilihat ke dalam mall?

Argumen yang lucu mengingat bahwa Singapura tidak kekurangan ruang publik sama sekali. Lahan terbuka yang mengapit jalan-jalan utamanya cukup lebar untuk dapat digunakan untuk orang berjalan kaki. Lampu lalu lintas di simpang jalanan direspek dengan baik. Jalan-jalan ramai tidak dikuasai oleh para preman. Tetapi Orchard Road di Singapura dan Alun-Alun Bandung, memang berbeda. Hawa panasnya mungkin kini sudah mirip, tapi disini tak ada tempat nyaman untuk berjalan di trotoar yang dikuasai oleh para preman. Bahkan pada sisi-sisi tertentu trotoar tersedia sangat sempit dan tak terlindung sama sekali oleh pepohonan dari teriknya matahari. Persimpangan jalanan menjadi ajang pemberhentian angkutan kota yang terkadang tak peduli kemacetan yang diakibatkannya. Lampu hijau hanya direspek apabila polisi berkeliaran di sekitarnya. Disini, orang-orang dilatih untuk takut dan cemas berada di ruang publik, untuk takut terhadap publik.

Jika di negara kecil seperti Singapura yang masih menyediakan ruang-ruang publik yang terbuka tersedia disanasini, orang-orang masih berbahagia untuk sekedar berjalan di mall dan saling bertemu, bagaimana di Indonesia? Disini juga sama, pasar tidak berfungsi hanya sekedar tempat jual-beli. Selalu ada sesuatu yang dipertukarkan di pasar, bukan hanya barang dan jasa, melainkan juga manusia sendiri. Kita, atau mereka, datang ke dalam pasar dengan setengah sadar, bahwa kita semua memiliki nilai, bahwa kita memiliki harga, dan bahwa kita dapat diukur dari simbol-simbol yang kita kenakan. Uang, menjadi skala ukur yang membuat segala nilai aritmetika diantara berbagai hal yang berbeda menjadi sama. Di SD kita mengetahui dimana dua buah apel ditambah dua ekor ulat sama dengan dua ekor ulat dan dua ekor apel. Kini, kita dan anak-anak SD masa datang akan belajar bahwa dua buah apel sama dengan delapan ribu rupiah di pasar swalayan, atau mungkin lebih murah di toko lain. Dalam sistem ekonomi sekarang ini, nyaris tak ada bedanya antara apel, ulat, handphone, ataupun perjalanan naik haji ke Mekkah. Di kota-kota besar Indonesia dimana ruang-ruang publik semakin tergusur oleh ruangruang privat para korporat, mall juga menjadi sebuah pusat sosial. Toko-tokonya tidak lagi sekedar toko dimana orangorang datang untuk menjual atau membeli atau sekedar bekeliling menikmati suasana belanja.Mall telah menarik orang-orang sibuk maupun pengangguran, dengan menawarkan sebuah dunia lain selain dunia yang penat saat ini.

Kini kita perhatikan bagi perkembangan mall di Bandung. Tahun 1970 akhir dan era 1980-an, kompleks perbelanjaan di seputar Alun-Alun Bandung sangat penting di kota ini. Di jajaran pertokoan Dalem Kaum dan Asia Afrika, toko-toko berderet-deret dan mulai dibangun juga gedung pertokoan yang disewakan pada para pemilik toko. Bentuk plaza seperti ini merepresentasikan sesuatu yang lebih daripada sekedar pasar tradisional Indonesia dimana para penjual berkumpul di satu tempat yang tidak dimapankan oleh bangunan beton dan kaca. Akhir tahun 1980-an, Bandung Indah Plaza muncul di jalan Merdeka. Ia menjadi salah satu pengamal konsep 'one shop one stop', dimana segala kebutuhan dapat dipenuhi di satu tempat. Ada supermarket di satu sisi di lantai dua, restoran dan food-court kecil di sisi lainnya, area bermain di lantai teratas dan di beberapa tempat terutama di lantai dasar adalah area fashion. Jika Asia Afrika Plaza adalah kompleks pertokoan, maka Bandung Indah Plaza adalah pusat perbelanjaan. Akhirnya, popularitas Asia Afrika Plaza merosot dan akhirnya dilupakan. Popularitas Bandung Indah Plaza-pun kian hari kian merosot walaupun masih tetap bertahan hingga kini semenjak dibangunnya mall yang menyediakan produk-produk yang lebih bermerk dan bertaraf internasional, Bandung Super Mall. Untuk menjadi sukses sebuah mall harus dapat menyediakan segalanya dari kebutuhan religius hingga kebutuhan akan kafe dan bioskop. Mall adalah garda depan dari budaya massa. Ia eksis beriringan dengan radio dan televisi, media-media yang paling handal dalam mempertajam bentuk pola pikir dan selera massa dengan serangan virtual 24 jam sehari di nyaris tiap rumah. Dengan segala bentuk budaya massa tersebut, simbol menjadi sangat penting dan esensi dipersilakan untuk menempati keranjang sampah.

Perhatikan lagi antusiasme Ramadhan di bulan November ini. Ramadhan di pasar adalah sebuah musim religius. Sesuatu yang sekedar hanya sebentuk musim, seperti layaknya musim hujan, musim panas, musim durian. Di media-media, nyaris semua iklan berlomba-lomba menggunakan tajuk Ramadhan. Quiz-quiz digelar dengan pertanyaan dangkal dimana pemenangnya mendapatkan uang dari sponsor. Substansi dari produk yang dijual oleh pihak sponsor jelas tak memiliki koneksi dengan isi pertanyaan. Tentu saja. Tapi memang hal itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana pemirsa terisi dengan pencitraan-pencitraan yang, semoga, akan terekam di memori bawah sadar mereka yang terepresentasikan dalam “kesadaran” mereka.

Apakah ada esensi yang terkandung disini? Mungkin tidak. Tapi apakah memang benar bahwa esensi itu adalah sesuatu yang penting? Mungkin juga tidak. Disini keyakinan duduk bersanding bersama komoditi di etalase, menawarkan dirinya pada konsumen, berusaha merayu tanpa menggunakan paksaan. Di toko, Tuhan telah menemui ajalnya. Hei, apa bedanya asesoris religius dengan bikini nan seksi model G-String? Keduanya dapat dilihat, atau dibeli,atau diabaikan begitu saja. Tidakkah pasar adalah sebuah tempat dimana sistem demokratik terlaksana, dimana setiap orang memiliki akses yang sama, dan ditawari harga yang juga sama? Bukankah itu adalah sebuah kesetaraan?
Mungkin. Tapi setidaknya aku sadar, bahwa tempatku bukan disitu. Supermarket hanya cocok untuk satu hal: dicolong.

- self fuckin' control -


Jesus Christ, please. aku tidak ingin terlalu banyak mengeluh ...
aku tidak jadi nyinyir dan tidak tau terima kasih;
andai saja orang terdekatku tidak membuatku merasa semakin tidak berguna.
aku sudah cukup merasa nol disini.
i beg you please, dear. untuk bisa bertahan sebagai manusia saja aku harus rela jadi jongos; harus sabar walau diperintah-perintah orang yang tidak kukenal tanpa kata 'tolong'.
sekebal apapun aku terhadap ketidakadilan, tetap saja lama-lama rasanya sakit.
bisa gak sih ada satu orang saja yang mengerti,
bahwa aku terkadang bisa menjadi sangat lemah, dan lelah.
bahwa aku telah mengorbankan banyak hal atas nama ketenangan jiwa.
sekarang yang bisa aku lakukan cuma mengais apa yang tersisa; kewarasan dan harga diri.

tolong, tidak perlulah terlalu sensitif, we're both too old to act like that.

- Merasa Seperti Neraka, Hiduplah Di Surga -


Masuk ke tempat kerja paling pertama, mati lampu. Orang-orang yang datang belakangan langsung diserang oleh kantuk yang tadi sudah susah-susah dilenyapkan. Saya asik terus selonjoran di kursi terpanjang, dan terus berbicara tentang kopi.

"yah minimal air kelapa..", tapi tidak ada reaksi. Mati lampu.

Semua mencari kegiatan. Pelarian. Beres-beres meja, cuci-cuci gelas, coret-coret kertas. Pelarian. Saya masih selonjoran di kursi terpanjang, dengan muka berbinar, tangan yang wangi sabun, menggenggam segelas teh tanpa rokok. Senyum-senyum tanpa mau lagi banyak bicara.

"Kenapa kau ?", tanya satu dari mereka yang melarikan kantuknya dengan koran.
"hahaha..", saya mencomot rokok dari kantongnya.

Hari ini sepertinya santai, jadi mari ngobrol dengan santai.
Si bos mau ke jakarta siang nanti, jadi mau beli oleh2 buat orang2 disana. Karena satu2nya orang yg masuk akal adalah saya, jadilah saya diajak keliling kota. Beli markisa, minyak tawon, dan beberapa blahblah entah apa lagi. Saya dapet sekotak ekspresso, sekotak rokok, dan segenggam koin 500-an.

"summer time..and living is easy", lalu saya nikmatin seruput terakhir ekspresso.
"mabok apa lagi nih ?", si bos nanya santai, sok dewasa. Tapi mupeng.
"summer time..and living is easy", sibuk ngitungin koin, saya gak ngejawab.

Diatas mobil, saya ngeliat lagi betapa rusuhnya Makassar malem minggu kemaren. 40 sampai 30 jam yang lalu. Kendaraan2 yang gak bisa jalan pelan, orang2 yang gak bisa ngomong pelan, dan musik2 yang gak bisa disetel pelan. Saya liat itu semua dari puluhan kilometer seberang laut.


Beberapa jam kemudian di hari yang sama di sekat2 tempat kami bekerja, setelah beberapa kali presentasi backsound yang gagal, saya didatengin sama si bagian keuangan. Refleks, saya langsung mikirin utang, atau kemungkinan pelanggaran2 disiplin yang laen selama stengah bulan kerja.

"mau gajimu sekarang, atau bareng sama anak2 yang laen ?"

Saya ngelirik kiri kanan, dan ngeliat keluar jendela. Sore yang baik.
Senin sore yang baik.
Terlalu baik untuk berakhir diduitin.

"besok ajalah"

Apa tidak sebaiknya kita semua berangkat tidur saat pagi menjelang terbit ? Karena waktu matahari menyengat adalah waktu yang sempurna untuk itu. Sian


Apa tidak sebaiknya kita semua berangkat tidur saat pagi menjelang terbit ? Karena waktu matahari menyengat adalah waktu yang sempurna untuk itu. Siang hari sudah jelas bukan saat yang baik untuk hidup. Mungkin karena orang jadi lebih cepat lelah dan marah. Sebaiknya digunakan untuk tidur. Percayalah dan bangunlah sore hari. Udara berwarna bila senja. Kadang jingga, kadang dinding putih terlihat seperti jeruk. Di sore hari, semua terlihat lebih indah. Seperti suara lembut ibu bangunkan kelopak mata anaknya yang bernama Psikedelia. Percayalah, sebab malam adalah saatnya semua lampu menyala. Termasuk lampu dalam diri manusia. Kegelapan cukup tebal untuk bisa meredam hiruk kehidupan dan pikuk kesibukan semua orang. Kelelahan tidak begitu terasa hingga saatnya ia harus terasa. Saat pagi menjelang terbit dan kita sebaiknya mulai tertidur.

Semoga tahun depan siklus hidup manusia berubah.

kekasih waktu 1


time is running out for us
but you just move the hands upon the clock

you throw coins in the wishing well with gold
you just move your hands upon the clock

it comes to you begging you to stop wake up
and you just move your hands upon the clock
throw coins in wishing wells for us
you make believe that you are still in charge

(the Clock, Eraser album by Thom Yorke)


waktu itu keniscayaan.sering orang berpikir waktu selalu menunggu, padahal waktu tidak pernah menunggu.ada hal-hal dalam hidup yang tak akan terulang meski hidup adalah keberulangan.pendulum memang akan kembali ke tempat yang sama tapi dia tidak akan melewati momen yang sama.cinta itu adalah memberi waktu.karena hanya waktu yang tidak akan pernah tergantikan dengan apapun.mencintai waktu adalah mencintai hidup.waktu menggerakkan hidup dalam detak-detaknya.

CRYING AGAIN...




TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA RIBUAN JIWA MANUSIA DALAM PERISTIWA KORBAN GEMPA DI JOKJAKARTA DAN SEBAGIAN JAWA TENGAH.

NOTHING LEFT TO SAID BABY...

PROSES REPRODUKSI MANUSIA


Manusia adalah raw material, sekolah pabriknya.
6 tahun di workstation sekolah dasar,
3 tahun di workstation SMP,
3 tahun di workstation SMA,
dan kalau materialnya bagus dia akan diproses 4-5 tahun di workstation universitas.
Workstation yang terakhir ini sangat luar biasa, sebab bisa menaikkan nilai raw material itu berlipat - lipat. Tentu saja nilai jualnya juga tinggi.
Itu dasar suatu proses produksi, untuk menaikkan nilai suatu barang.
Kabar buruknya adalah : kitalah barang itu.

Ketika saya ospek dulu, senior saya menggambarkan manusia yang berada di atas roda berjalan masuk pabrik bernama kampus dengan cerobong asap di atasnya, dan keluar dengan mengenakan toga.
"Siap terjun ke masyarakat", katanya.

Waktu itu saya tidak begitu memusingkan gambaran itu, tapi sekarang terasa seperti mimpi buruk.

Adakah yang minta dilahirkan? tidak.
Rene des Cartes (kalau tidak salah tulis) pernah bilang "Saya lahir karena keisengan orang tua saya"
Benar-benar iseng yang kelewat batas kalau begitu.
Bayangkan anda tiba -tiba ada dalam suatu permainan besar bernama kehidupan, dipaksa mengikuti aturan yang sudah ada sejak jaman dulu, suka tidak suka.
Siapa yang pernah mempertanyakan relevansi aturan - aturan itu? Para senior dunia ini hanya mengukuhkan status quo bahwa aturan itu sudah lama ada dan tidak bisa diganggu gugat.
kenapa?
karena sudah lama ada. Oh kita berputar-putar.

Coba anda tanya orang tua anda kenapa melahirkan anda!
Mungkin anda akan ditampar atau justru disuruh bertobat, tapi tidak pernah ada jawaban yang memuaskan. Apakah karena cinta?

Jika benar karena cinta, kenapa tidak membawa kita ke dunia yang lebih baik? Kenapa kita tidak dibiarkan menajdi bahagia? Minimal membiarkan kita menjalani keinginan dan apa yang kita anggap baik. Anda pernah ditanya cita - cita anda bukan?
jika usia anda diatas 20 tahun dan sedang diproses di perguruan tinggi, dan anda bercita menjadi peneliti hewan, maka anda akan buru - buru disuruh melupakan itu. meski itu berarti melupakan satu lagi kebahagiaan.
Apa yang membuat anda harus melupakannya?
Uang.

Tidak ada pabrik yang mau memproduksi barang yang tidak bisa dijual.
Ada yang bilang,
"Kumpulkan uang yang banyak, maka anda akan bahagia"

Coba pikir, apakah barang - barang di etalase toko merasakan uang yang anda bayar buat membelinya?

Mungkin ketika anda banyak uang, anda akan sibuk membeli ini itu, setidaknya itulah yang membuat anda sibuk dan melupakan bahwa anda tidak benar - benar bahagia. Mungkin anda pikir tulisan saya sangat idealis dan tidak masuk akal. Tidak mengapa, setidaknya setelah nanti saya laku dijual, saya masih merasa bahagia sebab memiliki pemikiran sendiri.
Ya, saya rasa saya adalah produk cacat dari proses produksi masal gila-gilaan ini.

berbicara tentang produk cacat, ada 3 tingkatan atau grade buat defect product (produk cacat).
*Tingkat satu masih bisa diperbaiki, tapi tentu saja makan biaya tambahan buat produksinya
*Tingkat dua masih bisa dijual dengan harga murah, biasanya buat pasar yang tidak memikirkan kualitas.
*Tingkat tiga adalah gagal total, biasanya langsung dibuang.

Biasanya pabrik melakukan quality control untuk memastikan proses produksi berada under control. Tentu saja untuk menekan angka cacat.
Nah lagi - lagi yang dipikirin prosesnya, bukan? Tidak ada yang benar - benar memikirkan kita, yang dipikirkan melulu kelangsungan hidup sistem.

Karena sistem adalah milik kita bersama, itulah argumentasi mereka.

Dan saya bertanya - tanya, siapa manajer pabrik besar ini?